Menjadi driver ojek online (ojol) di Bali harus siap menerima pesanan dari turis asing. Kendati, orderan itu kadangkala di luar nalar.
Salah satu driver yang curhat mengenai suka dan dukanya bekerja adalah Khairul Fahmi. Kepada detikBali, Fahmi mengaku beberapa kali mendapatkan pesanan antar barang yang harganya Slot Deposit 10 Ribu sangat murah.

Padahal, lokasi pengirimannya sangat jauh sehingga ongkos kirim lebih besar dibandingkan harga barang yang dibeli tersebut.

“Jadi sering anter orderan itu yang tidak sesuai dengan harga yang kita antar. Barangnya murah, ongkos itu yang gede,” kata Fahmi ketika mengobrol dengan detikBali di Kota Denpasar, Minggu siang (24/12/2023).

Fahmi mencontohkan suatu hari dia mendapatkan order dari turis asing yang membeli dua batang lilin. Dia mengantarkan lilin itu dari Jalan Gurita, Kelurahan Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan.

Pesanan dua batang lilin kecil itu dikirim ke Jalan Suweta di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Jarak Sesetan hingga ke Ubud sekitar 30 meter, hampir satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.

“(Pesanannya) cuman lilin, dua batang, kecil. Yang lilin atasnya kue ulang tahun yang besaran dikit. Itu saya antar,” kata Fahmi.

Menurut Fahmi, satu batang lilin itu bisa didapatkan dengan harga Rp 1.000. Baginya, lilin semacam itu seharusnya bisa dibeli di Ubud. Namun, WNA itu memesan via aplikasi dari Kota Denpasar.

“Itu sekitar seminggu yang lalu. Aneh-aneh pokoknya. Ongkirnya itu Rp 99 ribu. Padahal di sana (Ubud) saja dia beli, Rp 1.000 satu. Bule yang mesan, saya yang ngantar. Enggak tahu orangnya orang mana, pokoknya bulelah,” ujar Fahmi.

Tak hanya itu, lelaki berusia 32 tahun itu juga pernah mendapatkan jasa pesan antar untuk mengantar sepotong cokelat oleh WNA. Bule si pemesan jasa antar itu menyebut bahwa sepotong cokelat kecil itu berasal dari Rusia.

Potongan cokelat kecil itu diantar oleh Fahmi dari kawasan Kecamatan Ubud menuju ke Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung.

WNA yang memesan antar barang merogoh kocek hingga Rp 64 ribu untuk pengiriman cokelat kecil tersebut.

“Dari Ubud ke Canggu jauh, perjalanan satu jam itu. Aneh-aneh bule itu, kebanyakan Rusia,” ujar Fahmi.

Satu keunikan bule yang tak dilupakan Fahmi yakni adanya permintaan pengiriman mainan kunci dari kawasan Ubud menuju salah satu hotel kawasan The Nusa Dua milik International Tourism Development Corporation (ITDC) di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Mainan kunci yang dikirim hanya satu buah dengan harga Rp 10 ribu.

Pesanan pengiriman itu datang dari resepsionis di kawasan Ubud. Gantungan kunci yang dikirim dari Ubud ke hotel di The Nusa Dua itu dibeli oleh WNA berkebangsaan Italia.

“Mainan kunci Rp 10 ribu (berbentuk) lambang Pulau Bali. Itu saya antar, itu sudah dibungkus pakai amplop. Lucu itu. Bulenya dari Italia,” kata pria asal Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu.

Resepsionis yang memesan driver ojol untuk antar barang sempat menceritakan mengenai pengiriman itu kepada Fahmi. Resepsionis bercerita jika bule Italia yang membeli sempat meminta agar gantungan kunci kecil itu diminta dikirim ke Italia setelah si bule pulang.

Resepsionis tidak mau ribet hanya untuk mengirimkan gantungan kunci seharga Rp 10 ribu hingga ke Italia. Ia kemudian memilih mengirimkan mainan kunci itu ke hotel tempat bule itu menginap di kawasan The Nusa Dua dengan memesan driver ojol.

“Nginapnya di ITDC Nusa Dua itu. Nah, kebetulan bulenya belum pulang, mintalah dikirim ke Nusa Dua ke tempatnya menginap. Ongkosnya Rp 140 ribu,” kata Fahmi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *